www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Beberapa orang ditangkap atas dugaan ujaran kebencian di Whats App

Posted by On 01.03

Beberapa orang ditangkap atas dugaan ujaran kebencian di Whats App

]]> Beberapa orang ditangkap atas dugaan ujaran kebencian di Whats App

saracen, the family mcaHak atas foto Twitter
Image caption The Family MCA diperkirakan akan diproses berdasar UU ITE, sama seperti Saracen.

Direktorat Cybercrime, Badan Reserse Kriminal Polri menangkap sejumlah orang di beberapa tempat di Indonesia atas dugaan menyebarkan ujaran kebencian lewat berbagi di kelompok WhatsApp The Family MCA (Muslims Cyber Army).

Pesan-pesan tersebut berisi informasi untuk meresahkan masyarakat terkait ulama, komunisme dan Presiden Joko Widodo, di samping menyebarkan malware untuk merusak akun orang-orang, kata kepala biro Penerangan Masyarakat, divisi Hubungan Masyarakat Polri, Mohammad Iqbal kepada Nuraki Aziz untuk BBC Indonesia, Selasa (27/02).

"Yang mereka sebar itu adalah konten-konten yang bersifat provokatif, seperti menyebar tentang penyerangan para ulama yang tidak ada faktanya, kebangkitan PKI, terus juga menyudutkan pemimpin negara, bahkan presiden dan tokoh-tokoh tertentu.

"Mereka juga meny ebar virus kepada orang-orang tertentu dan kelompok, agar sistem ketika dibuka, sistem itu bisa rusak."

Iqbal menambahkan Polri masih bekerja untuk mendalami kejadian ini terkait dengan siapa kelompok ini, skala dan maksud kegiatan mereka, tetapi diduga jumlahnya memang banyak dan memiliki tujuan-tujuan tertentu.

  • Jaksa pertanyakan Ahok tak hadiri sidang, pengacara sebut hakim 'khilaf'
  • Masjid Ahmadiyah: Ditutup paksa di Indonesia, dibangun megah di Inggris
  • Pidana diskriminasi rasial ceramah SARA: 'momentum efek jera' ujaran kebencian

Kemungkinan besar undang-undang ITE akan dipakai untuk memproses mereka karena ujaran kebencian berisi informasi bohong, tanpa berdasarkan fakta yang mereka sebarkan di media sosial.

Tindakan yang dilakukan penegak hukum ini dipandang oleh pengajar hukum pidana Universitas Indonesia, Dr Eva Zulfa, dapat juga berakibat negatif karena kelompok seperti ini memang berusaha menda patkan dukungan masyarakat.

"Ketentuan di dalam KUHP itu tidak perlu dilakukan karena sifat apa yang disampaikan, perbuatan di depan umum melalui satu hal tertentu, yang dianggap ternyata dia belum punya pengetahuan tentang itu, sehingga menimbulkan reaksi di masyarakat dianggap sebagai ujaran kebencian, masih bisa ditangani melalui prosedur, atau melalui sarana-sarana yang tidak represif.

"Ini tidak lagi pola yang dilakukan oleh teman-teman penegak hukum. Ketika terjadi peristiwa itu maka harus mereka proses dan harus diadili," kata Eva.

Hak atas foto Reuters
Image caption Isi pesan ujaran kebencian dibuat agar orang tergugah, terinspirasi sehingga orang menjadi marah, kata pengamat.

Mudah dan biasa

Berbagai aksi yang dilakukan The Family MCA ini sebenarnya, secara teknis, tidaklah istimewa karena mudah dilakukan, kata Budi Rahardjo dari Indonesia Computer Emergency Response Team.

"Masalahnya sebetulnya bukan masalah teknis, masalah manusia saja. Misalnya salah satu pelakunya menyebarkan berita itu di berita keluarga A, di keluarga A mungkin ada anggotanya 25, tiga orang menyebarkan di tempat lain. Jadi sebetulnya bisa menjadi viral dengan sendirinya tanpa bantuan teknik-teknik tertentu.

"Yang penting sebetulnya adalah masalah kontennya. Bagaimana kontennya itu dibuat sehingga orang tergugahlah, sehingga orang terinspirasilah, sehingga orang marahlah, " pakar keamanan siber, Budi Rajardjo menjelaskan.

  • Benarkah ada 'ujaran kebencian dan ajakan kekerasan' terkait Pilkada Jakarta?
  • Polisi nyatakan serangan terhadap gadis berjilbab 'tak pernah terjadi'
  • Purnawirawan TN I akan adukan Saracen ke Mabes Polri

Hal ini kemungkinan menjadi salah satu penyebab maraknya penyebaran ujaran kebencian akhir-akhir ini, sementara Indonesia akan menghadapi Pilkada serentak di tahun 2018 dan pemilihan presiden pada tahun 2019.

"Peningkatan ujaran kebencian, kelihatannya, dalam kasus-kasus belakangan ini memang sangat marak.

"Apalagi kita tidak bisa tutup mata, kaitannya dengan situasi politik Indonesia menjelang pemilihan umum dua tahun ke depan. Isu-isu ini kelihatannya masih dianggap sebagai senjata ampuh untuk menghadapi lawan politik," Dr Eva Zulfa dari UI menjelaskan.

Pada tahun 2017, misalnya, Bareskrim Polri mengungkap sindikat Saracen, lewat penangkapan Polda Jawa Barat terhadap seorang warga atas dugaan menghina Ibu Negara, Iriana Jokowi, melalui Instagram.

Pikir dulu

Jadi apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menyikapi kecenderungan ini? Budi Raharjo mengatakan salah satunya adalah memerik sa setiap pesan yang diterima di media sosial.

"Kita ajari orang-orang misalnya, sebelum dibagikan pikir dulu. Sebelum berbagi, tahan dulu tiga hari. Kalau dalam tiga hari sudah kita lihat bahwa ini benar, baru kita berbagi. Biasanya setelah satu hari sudah reda sendiri.

"(terkait dengan pengambil alihan lewat malware) Biasanya kita tanya dulu, Eh ini kamu yang posting yah. Biasanya kalau di take over, yang bersangkutan tidak merasa ... Coba ganti password nya, handphone-handphone nya, komputer-komputernya," demikian kiat-kiat yang disampaikan pakar keamanan internet, Budi Rahardjo.

Sumber: Google News | Berita 24 Jabar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »