www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Polisi: Berita hoaks Muslim Cyber Army 'bermotif politik'

Posted by On 14.32

Polisi: Berita hoaks Muslim Cyber Army 'bermotif politik'

]]> Polisi: Berita hoaks Muslim Cyber Army ‘bermotif politik’

hoaxHak atas foto Kompas/Hendra A Setyawan

Berita palsu atau hoaks mengenai penyerangan ulama di Majalengka, Jawa Barat, ditengarai be rmotif politik menjelang pemilihan kepala daerah tahun ini.

"Tersangka mengaku iseng. Tapi bukti forensiknya tidak iseng, politik. Memang sengaja bagaimana caranya Jawa Barat goyang," papar Direktur Kriminal Umum Polda Jabar, Kombes Polisi Umar Surya Fana.

Dalam keterangannya kepada wartawan, termasuk Julia Alazka yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Umar mengatakan pihaknya mendapati kaitan tersangka Tara Asih Wijayani (40) dengan kelompok Muslim Cyber Army (MCA).

Perempuan yang berprofesi sebagai dosen ini mengunggah berita palsu di akun Facebook pribadinya soal pembunuhan seorang muazin oleh orang yang berpura-pura gila di Majalengka, Sabtu (17/02).

Berita hoaks itu kemudian disebar dan dibagikan di media sosial hingga 150.000 kali.

  • Penangkapan The Family Muslims Cyber Army: Bisa berakibat negatif?
  • SARA dan hoaks: mengapa bisa begitu laku sebagai komoditi politik?
  • Kasus Saracen: Pesan kebencian dan hoax di media sosial 'memang terorganisir'
Hak atas foto Twitter
Image caption The Family MCA diperkirakan akan diproses berdasar UU ITE, sama seperti Saracen.

Padahal, dalam kasus tersebut, orang yang dibunuh merupakan korban perampokan dan korban bukan muazin.

Tara, lanjut Umar, diduga salah seorang tim Sniper MCA yang tugasnya mencari foto atau kejadian kemudian diserahkan ke Family MCA Pusat. Selanjutnya, mereka menulis ulang narasi foto atau kejadian, mengunggahnya ke media sosial, dan memviralkannya.

Umar mengatakan Tara tidak mendapat bayaran untuk melakukan aksinya itu. Namun polisi masih akan mendalami pernyataan tersangka.

Hak atas foto Mabes Polri
Image caption Tiga tersangka dengan inisial JAS (32 ) MFT (43) dan SRN (32) yang menjadi tersangka pengelola kelompok Saracen.

Siapakah Muslim Cyber Army?

Menurut Umar, MCA mirip dengan kelompok Saracen dalam konteks membuat berita hoax yang kemudian diviralkan.

Namun, perbedaannya, Saracen terbukti menerima pesanan dan mendapat bayaran. Saracen juga memiliki struktur organisasi, seperti ketua, sekretaris, dan koordinator daerah.

Adapun MCA , menurut Umar, merupakan organisasi tanpa bentuk di dunia maya. Anggota MCA bisa mencapai ribuan karena komunitas tersebut sangat cair dan terbuka sehingga orang dengan mudah menjadi anggota atau follower.

Jumlah follow ernya yang banyak kemudian mengerucut pada tim inti yang disebut Family MCA.

Umar menyebutkan, MCA Indonesia ini menginduk ke United MCA, jaringan internasional yang telah berhasil memecah belah Suriah dan Irak.

Umar menegaskan Bareskrim kini tengah menyelidiki siapa aktor intelektual MCA.

"Kalau ditanya, ada nggak sih AD/ARTnya, nggak ada. Nah sekarang, di atasnya MCA ini ada orang nggak, ini Bareskrim yang sedang tangani. Tim inti ini siapa payungnya, ini yang lagi dibuka sama mereka," papar Umar.

Hak atas foto Reuters
Image caption Berita hoaks berseliweran di media sosial.

Belasan berita hoaks

Umar mencatat sebanyak 20 kasus pe nyerangan ulama muncul dan tersebar di media sosial. Tapi dari sekian banyak kasus itu, hanya dua yang benar-benar terjadi. Sisanya, sebanyak 18 kasus, adalah berita palsu.

Umar mengategorikan 18 belas berita palsu itu menjadi tiga.

Pertama, berita palsu yang mendompleng kejadian kriminal biasa. Contohnya, berita penyerangan ulama oleh orang sakit jiwa di Bogor dan pembunuhan muazin di Majalengka.

Kedua, berita palsu yang diciptakan oleh pengunggah. Contoh, perusakan masjid oleh pengidap sakit jiwa di Bandung dan pengeroyokan anak santri oleh enam orang pengidap sakit jiwa di Garut.

Ketiga, berita palsu yang sama sekali tidak ada kejadiannya, tapi mereka menciptakan peristiwanya.

Contoh, pengidap sakit jiwa yang masuk ke sebuah pondok pesantren di Cimahi, lalu membacok orang. Padahal, tidak ada kejadian apa pun di Cimahi, sementara fotonya yang juga diunggah diketahui sumbernya dari sebuah kejadian di luar negeri.

"Tiga kriteria hoaks ini jumlah totalnya 18 di Jawa Barat. Di antara tiga jenis hoaks ini, yang paling banyak korbannya orang gila," ujar Umar.

Dalam kasus terpisah, Polda Jawa Barat juga telah menangkap seorang pelaku penyebar berita palsu dengan konten PKI. Tersangka bernama Ahyad Saepuloh alias Ugie Khan yang mengunggah postingan SARA di akun Facebook.

Kini, tersangka telah ditahan di ruang tahanan Polda Jawa Barat.

Kepada wartawan, tersangka mengaku tidak memiliki motif apapun. Unggahannya itu hanya aksi pribadi tanpa suruhan dari siapa pun

"Nggak ada yang nyuruh, nggak ada motif apa-apa," kata pemuda berusia 29 tahun itu.

Sumber: Google News | Berita 24 Jabar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »