www.AlvinAdam.com

Berita 24 Jawa Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kenapa polisi gagal mencegah serangan teror belakangan ini?

Posted by On 19.20

Kenapa polisi gagal mencegah serangan teror belakangan ini?

Kenapa polisi gagal mencegah serangan teror belakangan ini?

Densus 88Hak atas foto MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO
Image caption Satuan polisi anti-terorisme Densus 88 melakukan penggerebekan rumah terduga teroris di Tangerang.

Memasuki bulan puasa, Indonesia masih dirundung aksi terorisme.

Setelah kerusuhan di Mako Brimbo dan bom bunuh diri di Surabaya, Markas Kepolisian Daerah Riau menjadi sasaran terbaru teroris yang diduga terkait dengan kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), Rabu (16/ 05).

Dan pengamat terorisme dari Yayasan Lingkar Perdamaian Ali Fauzi mengkhawatirkan serangan akan berlanjut di Bulan Ramadan karena para teroris meyakini bahwa 'amalan' mereka akan diganjar pahala berlipat ganda.

"Mereka meyakini bahwa bom bunuh diri, dengan melakukan serangan pada target-target yang mereka pilih itu bagian daripada jihad."

"Tentu ketika melakukan amal di bulan puasa, pahala, ganjaran yang mereka pahami berlipat-lipat," kata Ali, yang merupakan mantan kombatan dan pernah terlibat dalam kasus terorisme.

  • Pengeboman di Surabaya: 'Marah, sedih, dan trauma' jemaat gereja
  • Bom Surabaya: 'Saya tidak terlalu kaget Dita meledakkan diri bersama keluarganya'

Serangan di Mapolda Riau menewaskan seorang polisi dan melukai dua lainnya sedangkan empat pelaku ditembak mati, dan satu pelaku yang berusaha melarikan diri telah berhasil ditangkap.

Rabiu (16/05) pag i sebuah mobil menabrak pagar Mapolda dan dari dalam mobil, ke luar empat orang bertopeng yang kemudian menyerang polisi dengan senjata tajam.

Juru bicara Polri, Irjen Setyo Wasisto, mengatakan para pelaku terkait dengan ISIS dan telah berbaiat kepada pemimpin kelompok teror itu, Abu Bakar al-Baghdadi.

Hak atas foto Rony Muharrman/ANTARA FOTO
Image caption Seorang petugas polisi, Ipda Auzar, tewas ditabrak mobil pelaku penyerangan di Mapolda Riau.

Sebelum menyerang Mapolda Riau, kata Setyo, mereka sebenarnya sudah datang ke Mako Brimob di Depok, Jawa Barat, untuk melancarkan serangan lanjutan.

"Namun, karena Mako Brimob sudah kondusif, mereka pulang. Dua pulang ke Sumatera Selatan, sudah ditangkap. Yang empat ke Pekanbaru melakukan penyerangan," paparnya.

Sementara polisi terus mengejar terduga teroris di berbagai tempat, antara lain tiga terduga teroris -seorang di antaranya perempuan- yang ditangkap satuan anti teror Densus 88, Rabu (15/05).

Sebelumnya, Densus 88 juga menangkap sejumlah teroris di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.

  • Penyerang Polda Riau 'ada kaitan' dengan ISIS
  • Penggerebekan di Tangerang, Densus 88 tangkap seorang perempuan dan dua terduga teroris

Polisi 'kewalahan'

Bagaimanapun, polisi tampaknya luput dalam mencium sejumlah serangan yang dipicu oleh kerusuhan di Mako Brimob pekan lalu.

Pengamat kepolisian dari UI, Benny Mamoto, menilai polisi kewalahan dalam menghadapi luasnya jaringan teroris.

Sebelumnya Kapolri Tito Karnavian menytakan bahwa terdapat 500 keluarga asal indonesia yang kembali dari Suriah setelah mempelajari s trategi teror.

"Bayangkan saja 500 orang, mungkin lebih; ditambah mereka yang kemudian diradikalisasi oleh mereka yang berangkat ke Suriah. Ini kan 500 bisa berlipat," kata Benny.

Bagaimanapun, tak lama setelah pers serangan di Surabaya, Senin (14/05), Kapolri Tito Karnavian mengklaim bahwa aparat sebenarnya sudah berhasil menggagalkan banyak serangan teroris meski tidak diungkap ke publik.

Hak atas foto Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
Image caption Kapolri Tito Karnavian mengatakan bahwa aparat sebenarnya sudah berhasil menggagalkan banyak serangan teroris.

Tapi apa kata warga tentang antisipasi polisi atas rangkaian serangan teroris ini.

"Kok bisa sampai kecolon gan gitu, apakah nggak ada antisipasinya, nggak ada warning dari mereka ya," kata Ulfa.

Sedang Restu bisa lebih memahami kesulitan yang dihadapi polisi, "Lagian emang namanya teroris tidak sembarangan bikin rencana. Mereka juga sudah menyiapkan berbulan-bulan."

Masalahnya, kata Tito, dari sekian banyak rencana serangan yang berhasil dideteksi dan dihentikan oleh aparat, teroris hanya perlu berhasil satu kali saja.

"Bagi teroris, Anda berhasil menggagalkan 999 rencana kami tapi satu saja Anda gagal mendeteksi kami maka kami sudah sukses," ujarnya.

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah menyetujui pengaktifan satuan gabungan TNI untuk membantu Polri memberantas terorisme.

Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) akan dikomandoi Panglima TNI, yang dalam menjalankan tugasnya berkoordinasi dengan Kapolri.

"Unsur-unsur di dalamnya kekuatan-kekuatan dari pasukan khusus darat, l aut, dan udara yang terpilih, yang terbaik," kata Moeldoko kepada wartawan di Istana Negara.

Sumber: Google News | Berita 24 Jabar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »