www.AlvinAdam.com

Berita 24 Jawa Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Para tahanan teroris di Mako Brimob dipindahkan, Presiden Jokowi: "Negara tidak pernah takut"

Posted by On 02.12

Para tahanan teroris di Mako Brimob dipindahkan, Presiden Jokowi: "Negara tidak pernah takut"

]]> Para tahanan teroris di Mako Brimob dipindahkan, Presiden Jokowi: "Negara tidak pernah takut"

Brimob, Kelapa DuaHak atas foto AFP/DOK.Polri
Ima ge caption Salah seorang napi teroris mengangkat tangan saat keluar dari rumah tahanan cabang Salemba di kompleks Mako Brimob, Senin (10/05).

Presiden Joko Widodo mengatakan "negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut" pada terorisme, seiring dengan berakhirnya kerusuhan di Mako Brimob, pada Kamis (10/05).

"Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama rakyat dan negara kepada seluruh aparat keamanan yang terlibat dalam menyelesaikan peristiwa ini," papar Jokowi di Istana Bogor.

"Perlu saya tegaskan bahwa negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut dan tidak akan pernah memberikan ruang sedikitpun pada terorisme dan juga upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara," lanjutnya.

Lebih jauh, Presiden mengungkap bahwa dirinya telah memerintahkan kepada Wakapolri untuk memberikan kenaikan pangka t luar biasa kepada prajurit yang menjadi korban dalam kerusuhan di Mako Brimob.

Secara terpisah, Sri Puguh Budi Utami selaku Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, mengonfirmasi bahwa kendaraan Polri yang mengangkut 145 napi terorisme telah bergerak dari Mako Brimob ke LP Nusa Kambangan.

"Di Nusa Kambangan siap menampung. Dua Lapas telah kami siapkan. 145 napi akan kami bagi untuk mengisi dua lapas tersebut," ujarnya kepada Kompas TV.

  • Rusuh Mako Brimob: Polisi diminta kedepankan upaya persuasif untuk bebaskan sandera
  • Enggan kecolongan, Polri 'tak biarkan' Aman Abdurrahman hirup udara bebas
  • Pelaku penusukan dua anggota Brimob di Jakarta 'bukan bagian dari jaringan teror'
Hak atas foto Reuters
Image c aption Para personel Brimob berjaga-jaga di sekitar Mako Brimob, Senin (10/05).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM, Wiranto, menyatakan perlawanan para napi teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, telah berakhir. Seluruh napi teroris, menurutnya, telah menyerah tanpa syarat.

Penyerahan diri mereka didahului oleh ultimatum bahwa aparat keamanan akan melakukan penyerbuan.

"Aparat keamanan sebelum melakukan tindakan memberi ultimatum bahwa akan melakukan serbuan. Menyerah atau berisiko menghadapi serbuan. Tentu dengan batas waktu tertentu, bukan mengulur waktu," ujar Wiranto, yang mendatangi Mako Brimob, pada Kamis (10/05) pagi.

Wiranto mengungkap, sebelum fajar sebanyak "145 dari 155 keluar menyerah tanpa syarat, keluar satu persatu, senjata ditinggalkan".

"Masih ada 10 yang menyatakan tidak menyerah, maka ap arat melakukan serbuan di lokasi mereka. Tadi kita saksikan, bunyi bom, bom asap, gas air mata. Ternyata dalam serbuan tersebut, sisa 10 teroris menyerah. Maka lengkap 155 tahanan teroris telah menyerah kepada aparat kepolisian Indonesia," paparnya.

Hak atas foto AFP/Dok.Polri
Image caption Senjata api, amunisi, dan rompi anti-peluru yang dirampas para napi teroris dari polisi di rumah tahanan. Semua perlengkapan itu ditinggalkan saat mereka menyerahkan diri.

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan seluruh napi teroris tersebut akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Bahkan, hari ini beberapa napi dalam perjalanan ke sana.

Komjen Syafruddin mengatakan opera si penanggulangan sudah selesai pukul 07.15 WIB. Sebanyak 156 tahanan teroris melakukan perlawanan, satu di antara mereka tewas.

Syafruddin menegaskan tidak ada negosiasi dengan para tahanan yang memiliki senjata hasil rampasan dari anggota Polri yang terbunuh. Dari seluruh senjata yang dirampas, terdapat "senapan panjang yang jarak tembaknya 500-800 meter bisa menjangkau jalan."

Dalam kesempatan itu, Komjen Syafruddin mengoreksi bahwa penyanderaan sejumlah anggota Polri berlangsung di rumah tahanan cabang Salemba "yang kebetulan berada di Kompleks Mako Brimob".

Hak atas foto Reuters
Image caption Walau dibebaskan dalam keadaan hidup, sandera terakhir menderita cedera di bagian tubuhnya.

Kerusuhan di kompleks Mako Brimob terjadi pada Selasa (08/05) malam, sekitar pukul 19.30 WIB. Polisi menyebut pemicu kerusuhan adalah amukan seorang narapidana yang merasa titipan makanan dari keluarga narapidana tidak disampaikan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen M Iqbal, makanan dari luar tahanan memang harus diperiksa untuk meneliti apakah ada barang-barang yang diselundupkan dalam makanan.

"Lalu terjadi keributan, cekcok," kata Iqbal.

Napi itu lalu melakukan provokasi sehingga para napi teroris lainnya melakukan perlawanan dan menguasai tiga blok sel serta 30 pucuk senjata. Saat itu enam polisi disandera.

Hak atas foto AFP
Image caption Polisi di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat berjaga-jaga setelah kerusuhan pecah pada Selasa (08/05)

Sandera terakhir dalam kerusuhan di Mako Brimob di Kepala Dua, Depok, sudah dibebaskan oleh para tahanan pada Kamis (10/05) dini hari, setelah lima aparat polisi lainnya yang disandera tewas.

Bripka Iwan Sarjana dibebaskan dalam kondisi hidup namun menderita luka-luka lebam di bagian muka dan di beberapa bagian tubuhnya dan langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk perawatan lebih lanjut.

"Pembebasan dilakukan atas negosiasi. Mereka minta makanan, maka kita bujuk mereka untuk bebaskan dulu. Sandera polisi yang kita bebaskan dulu," ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto, kepada wartawan seperti dikutip Kompas.com.

Adapun luka-luka yang dialami lima polisi yang meninggal dalam kerusuhan di Mako Brimob, Depok berupa mulai sayatan dalam sampai tembakan, yang membuat kepolisian menyebutnya sebagai sesuatu yang di luar batas kemanusiaan.

Lima aparat polisi yang meninggal dalam kerusuhan di rutan Mako Brimob Selasa (08/05), dan sebagian besar disebut mengalami menderita luka akibat senjata tajam di leher.

Brigjen Pol. M. Iqbal, Kepala Bagian Penerangan Masyarakat Polri, mengatakan kepada para wartawan Rabu (09/05), "Dari lima rekan-rekan yang gugur, mayoritas luka akibat senjata tajam di leher. Dan luka itu sangat dalam. Ada juga satu orang luka di kepala akibat tembakan."

Dia menambahkan mengatakan polisi yang meninggal mengalami luka sayat di tubuh mereka, termasuk di lengan, jari dan paha.

Hak atas foto Reuters
Image caption Lima polisi meninggal dalam kerusuhan dengan narapidana terorisme yang pecah Selasa (08/05)

Kepala divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto menggambarkan lebih lanjut kondisi yang dialami polisi yang meninggal, "Ada seperti luka bacok, luka tembakan. Ada juga satu orang yang lukanya macam-macam, kakinya disayat, dan lain-lain."

________________________________________________________________________

Identifikasi korban

Ada enam kantong jenazah yang dibawa dari Mako Brimob ke RS Polri, Jakarta Timur. Gabungan Tim Inafis atau Indonesia Automatic Fingerprint Identificaton System dari Polri dan Polda Metro Jaya kemudian melakukan pengambilan sidik jari dan pengabilan foto korban kasus kerusuhan di Rutan Mako Brimob.

Identifikasi enam mayat tersebut, seperti diungkapkan oleh Kompol Mumuh Saepuloh, yang beredar ke kalangan wartawan adalah:

(Keterangan tentang luka masing-masing korban sebagaimana tertulis di salinan dokumen yang beredar).

1. Briptu Fandi Setio Nugroho, lahir 9 Desember 1988. Luka : luka gorok leher tembus dr leher belakang s/d tenggorokan, luka lecet pada alis kiri, luka terbuka pada pipi kanan.

2. Syukron Fadhli, lahir 9 Oktober 1977. Luka: luka tembak pada kepala bag kiri atas kuping tembus kepala sebelah kanan, luka lecet paha kanan.

3. Wahyu Catur Pamungkas, lahir 24 Mei 1994. Luka: luka gorok pd keher kanan sampai pipi kanan bawah, luka pd dagu kanan, luka tembak pd dahi sebelah kiri.

4. Yudi Rospuji Siswanto, lahir 19 Desember 1977. Luka: luka tusuk pd kaki kanan, luka sobek lutut belakang, luka sayat pd kaki kiri, luka sobek pada punggung telapak kaki, Jompol kaki kiri robek, pelipis kanan robek, mata kanan kiri luka bacok, leher luka bacok, dada kiri kanan luka tusuk, tangan kanan luka bacok, siku kanan luka bacok, tangan kanan atas luka.

5. Denny Setiadi SH, lahir 15 Mei 1985. Luka : pipi kiri luka bacok, bibi bengkak gigi atas lepas, leher belakang luka bacok, luka tembak pd dada kanan.

6. Beni Samsutrisno, lahir 18 Juni 19 86 (narapidana terorisme. Luka : luka tembak pd dada kiri 2 lobang (tahanan teroris/ Napiter).

Kegiatan identifikasi terhadap mayat disebutkan dengan menggunakan alat berupa kamera, kandycam, mambis, dan kartu AK.23.

Hak atas foto Reuters
Image caption Korban jiwa berupa lima aparat polisi dan seorang narapidana terorisme.

_________________________________________________________________________

Apakah ini perbuatan manusiawi atau tidak?

"Silakan rekan-rekan media menyimpulkan apakah ini perbuatan manusiawi atau tidak. Tapi kami hormati rule of law, proses negosiasi yang kami kedepanjan," ucap Iqbal.

Hak atas foto Reuters
Image caption Polisi berjaga-jaga di seputar Mako Brimob.

Sebelumnya M Iqbal mengatakan pemicu kerusuhan yang terjadi Selasa (08/05) karena masalah sepele, yaitu makanan yang dikirimkan oleh keluarga narapidana dan akan diperiksa oleh petugas. Masalah ini yang kemudian menimbulkan keributan antara tahanan dan petugas kepolisian.

Iqbal mengatakan sesuai prosedur, seluruh makanan yang berasal dari luar dan diberikan kepada tahanan harus melalui pemeriksaan.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan tahanan terorisme di Mako Brimob "sudah baiat untuk sampai mati".

  • Brimob tembak Brimob: Polri diminta perketat pengawasan senjata
  • Polisi ‘75% yakin’ dapatkan identitas penusuk dua anggota Brimob di Jakarta
  • Masalah impor senjata Polri, Wiranto: 'Beri kesempatan saya untuk koordinasi'

Sementara itu Institute for Policy Analysis of Conflict atau IPAC yang berkantor di Jakarta, menyebutkan ada sekitar 150 tahanan yang menunggu pengadilan dengan dakwaan terorisme -termasuk yang menunggu pemindahan tahanan- dan sebagian besar memiliki kaitan dengan kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Dalam laporannya Februari lalu, IPAC menyebutkan banyaknya para pendukung ISIS di dalam satu tempat penahanan sama dengan 'menunggu datangnya bencana'.

"Kami mengatakan A: penuh sesak dan B: tidak ada upaya sama sekali untuk membimbing tahanan yang baru masuk dan hampir semua pro-ISIS," kata Sidney Jones, Direktur IPAC, seperti dikutip New York Times.

Sumber: Google News | Berita 24 Jabar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »